🐏 Cara Menghitung Skala Foto Udara

A Tatacara Pemotretan Udara. Dalam fotogrametri ( Fotogrametri ) dikenal tiga langkah utama : data akuisisi atau tahap pengadaan data awal (baik berupa hasil pemotretan udara, penyiapan data citra lain untuk pemetaan), tahap prosesing atau pemetaan dan terakhir penyajian dan penyimpanan data hasil (baik hard copy dan soft copy). mempengaruhiskala foto udara yang dihasilkan. Semakin tinggi pesawat udara, maka akan menghasilkan skala foto udara yang relative kecil namun cakupan cukup luas, akan tetapi obyek yang tampak jadi tidak begitu detil. Dan jika pemotretan dilakukan dengan ketinggian rata-rata, maka hasil foto udara adalah cakupan yang cukup luas dan 5contoh sederhana untuk menghitung parameter dalam model FFNN, RNN dan CNN Mengapa kita perlu menghitung lagi jumlah parameter dalam model deep learning? Kami tidak. Namun dalam kasus di mana kita perlu mengurangi ukuran file model atau bahkan mengurangi waktu yang dibutuhkan untuk inferensi model, mengetahui jumlah parameter sebelum dan sesudah kuantisasi model akan berguna. Bagaimanacara menghitung polusi udara? Ada beberapa cara untuk menghitung polusi udara. Cara yang paling umum adalah dengan menggunakan Indeks Kualitas Udara (AQI). AQI adalah indeks yang menggunakan skala dari 0-500 untuk menilai kualitas udara. Semakin tinggi AQI, semakin buruk kualitas udara. Untuk menghitung AQI, kamu perlu mengetahui hal Carakerja inderaja dimulai saat melakukan proses perekaman objek yang ada di permukaan bumi. Penginderaan ini dihubungkan oleh tenaga yang membawa data menuju sensor, seperti bunyi, daya magnet, gaya berat, dan elektromagnetik. (contohnya foto udara) menggunakan stereoskop. Stereoskop adalah alat untuk mengambil gambar dari udara dengan Adapuninformasi pada photo udara yang perlu diidentifikasi sebagai informasi atau data awal dalam pelaksanaan pekerjaan photogrametri, dan yang termasuk didalamnya adalah : a) Fiducial mark: merupakan 4 tanda titik bidang focus kamera udara yang kegunaannya untuk menentukan titik utama photo titik pusat exposure dan proyeksi. . 1. Penentuan Skala Citra Udara Total gambaran yang bisa disajikan pada suatu foto mega keseleo suatu faktornya bergantung pada skala foto. Skala dapat dinyatakan sebagai padanan jarak, bongkahan representatif, alias perbandingan. Sebagai contoh, takdirnya jarak citra gegana 1 mm mengambil alih 50 meter di lapangan, perbandingan citra gegana dapat ditulis 1 mm = 50 m lawan unit atau 1/ retakan representatif ataupun 1 perbandingan. Selevel halnya dengan skala pada peta, penyebutan nisbah puas foto kembali dikenal adanya skala besar dan nisbah kecil. Foto yang berskala lautan adalah foto yang mempunyai proporsi 1 Karena foto ini menunjukkan ketampakan bekas yang ukurannya bertambah besar dan relatif boleh diperinci. Bandingkan dengan foto udara berskala 1 membentangkan isi seluruh daerah tingkat akan menunjukkan ketampakan nan ukurannya lebih kecil dan kurang rinci. Prinsip nan paling mudah untuk menentukan apakah sebuah foto udara termasuk ke privat neraca raksasa atau perimbangan boncel ialah Beliau harus menghafaz bahwa objek nan setimbang tampak lebih boncel pada foto udara nan skalanya kian kecil dibandingkan foto nan skalanya kian ki akbar. Metode yang cepat bakal menentukan skala foto merupakan mengukur jarak di foto dan di lapangan antara dua titik nan dikenal. Syaratnya dua titik tersebut harus dapat diidentifikasi di dalam foto dan pada peta. Skala S dihitung seumpama perbandingan jarak di citra d dan jarak di alun-alun D. S=d/D Neraca adalah fungsi berpangkal tahapan fokus kamera f yang digunakan untuk mendapatkan foto dan tataran pusing di atas alamat H’. Skala citra gegana dapat dihitung melalui rumus bak berikut. S=f / H Sempurna Perekaman suatu alamat dilakukan dengan memperalat kamera yang memiliki jenjang fokus 30 mm f. Tahapan terbang pesawat meter di atas permukaan laut H dan ketinggian objek 300 meter di atas permukaan laut h. Berapakah skala citra udara tersebut? Jawab S = f/H-h S = 30 / 3000-300 S = 30 mm / 2700 m S = 3 cm / cm S = 1 Kaprikornus, skala citra udara tersebut yakni 1 Prediksi neraca dilakukan dengan membandingkan panjang titik api dengan ketinggian sano, tetapi jika pada citra udara enggak dicantumkan ketinggian panik, runding skala boleh ditentukan dengan membandingkan jarak pada citra udara dengan jarak datar di lapangan. Perhitungannya dapat menunggangi rumus sebagai berikut. S = jf / jl Keterangan S = skala citra mega jf = jarak di citra jl = jarak datar di lapangan 2. Varietas Foto Foto boleh dibedakan atas citra foto photographyc image ataupun citra udara dan citra nonfoto nonphotograpyc image. a. Citra Foto Citra foto adalah gambar yang dihasilkan dengan memperalat pemeriksaan kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa bawah pertimbangan, yakni sebagai berikut. 1 Spektrum Elektromagnetik nan Digunakan Berdasarkan skop elektromagnetik nan digunakan, citra foto dapat dibedakan atas menjadi panca jenis, yaitu sebagai berikut. a Foto ultraungu, yakni foto yang dibuat dengan menggunakan radius ultraungu erat dengan panjang gelombang 0,29 mikro meter. Cirinya tidak banyak informasi yang boleh diperoleh, semata-mata untuk beberapa mangsa berpokok citra ini mudah pengenalannya karena rahasia kontrasnya yang ki akbar. Foto ini sangat baik bakal mendeteksi beberapa fenomena, seperti tumpahan minyak di air laut, membedakan tarup logam yang bukan dicat, dan jaringan perkembangan aspal. b Foto ortokromatik, yaitu foto yang dibuat meng gunakan jangkauan tampak, menginjak corak biru hingga sebagian hijau 0,4–0,56 mikrometer. Bahan akan terlihat makin jelas sehingga citra ini bermakna untuk studi pesisir mengingat filmnya paham terhadap bulan-bulanan di sumber akar parasan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. c Foto pankromatik, yaitu foto yang menggunakan seluruh jangkauan terpandang mata tiba warna merah sampai ungu. Daya peka film intim seperti mana kepekaan mata manusia. Foto ini sesuai lakukan mendeteksi fenomena pencemaran air, air bah, dan penyebaran potensi air tanah. d Foto inframerah zakiah true infrared photo, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan jangkauan inframerah dekat 0,9–1,2 mikrometer yang dibuat secara partikular. Karak teristik citra ini ialah dapat mencapai bagian internal daun sehingga rona sreg citra inframerah tak ditentukan corak daun tetapi oleh sifat jaringannya. Foto ini sesuai cak bagi mendeteksi ber bagai tipe tanaman dengan segala diversifikasi kondisinya. e Foto inframerah modifikasi, yakni foto yang dibuat dengan infra ahmar dekat dan sebagian lingkup tampak pada warna merah dan sebagian corak hijau. Dalam foto ini, incaran bukan segelap dengan memperalat film inframerah senyatanya sehingga boleh dibedakan dengan air. Foto ini cocok bakal survei vegetasi karena patera hijau tergambar dengan kontras. 2 Sumbu Kamera Sumbu kamera dapat dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke bidang bumi, yaitu sebagai berikut. a Foto vertikal maupun foto tegak orto photograph, adalah foto nan dibuat dengan murang pemotret tegak harfiah terhadap permukaan mayapada. b Foto menuju maupun foto kencong oblique photograph, yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke parasan bumi. Ki perspektif ini umumnya sebesar 100 maupun kian besar. Semata-mata, jika ki perspektif kemiringannya masih berkisar antara 1–40, foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai citra tegak. Citra berkiblat dapat dibedakan pula menjadi dua, yaitu sebagai berikut. 1 Foto agak mendatangi low oblique photograph, yaitu jikalau cakra wala tidak tergambar pada citra. 2 Foto adv amat membidik high oblique photograph, adalah sekiranya pada foto tampak cakrawalanya. 3 Sudut Liputan Kamera Bersendikan sudut liputan kameranya, citra foto dibedakan atas empat jenis. Perhatikan Grafik berikut ini. Sudut kecil Narrow Angle Sudut absah Konvensional Angle Ki perspektif Lebar Wide Angle Sudut tinggal Lebar Super Wide Angle 304,8 209,5 152,4 88,8 100° Sudut kecil Sudut normal/ sudut standar Kacamata lebar Ki perspektif silam lebar Berlandaskan jenis kamera nan digunakannya, citra udara dapat di beda morong ke dalam dua keberagaman, ialah sebagai berikut. a Foto tunggal, merupakan foto yang dibuat dengan pemotret tunggal. Tiap kewedanan liputan foto saja tergambar oleh satu lembar citra. b Foto jamak, yaitu sejumlah foto yang dibuat kapan nan setolok dan menggambarkan daerah liputan yang setimpal. Proses pembuatan nya dapat dilakukan melampaui tiga prinsip, adalah sebagai berikut. 1 Multi kodak atau sejumlah kamera yang sendirisendiri diarah teko ke satu objek. 2 Pemotret multi suryakanta atau satu kamera dengan bilang suryakanta. 3 Kamera tunggal berlensa individual dengan pengurai warna. Foto jamak masih dibedakan menjadi dua tipe, ialah sebagai berikut. 1 Foto multispektral, yaitu beberapa citra untuk daerah yang begitu juga beberapa kamera, ataupun suatu kamera dengan beberapa suryakanta, setiap lensa menunggangi saluran band yang berbeda, yaitu biru, yunior, merah, serta infra sirah pantulan. 2 Foto dengan pemotret ganda, yaitu pemotretan di suatu daerah dengan menggunakan beberapa kamera dengan jenis film nan farik. Misalnya, pankromatik dan infra merah. 4 Corak yang Digunakan Berdasarkan warna yang digunakannya, citra udara dapat dibedakan ke internal dua varietas, adalah sebagai berikut. a Foto berwarna semu false colour atau foto infra merah berwarna. Pada foto berwarna semu, warna target tidak sebabat dengan warna citra. Misalnya, vegetasi yang berwarna hijau dan banyak memantulkan spektrum inframerah, kelihatan merah lega foto. b Foto rona tulen true color, yaitu foto pankromatik berwarna. 5 Sistem Alat angkut Berdasarkan variasi wahana maupun media yang digunakannya, citra udara dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut. a Foto peledak, ialah foto nan dibuat dengan cara menggunakan media pesawat atau balon udara. b Foto bintang beredar atau foto orbital, yaitu citra yang dibuat dengan meng gunakan media atau alat angkut satelit. b. Citra Nonfoto Citra nonfoto adalah gambaran objek yang dihasilkan makanya sensor tidak kamera. Citra nonfoto dibedakan atas spektrum elektromagnetik yang digunakan, sensor nan digunakan, dan berdasarkan wahana yang digunakan. 1 Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan Berdasarkan cak cakupan elektromagnetik yang digunakan dalam proses penginderaan jauh, citra nonfoto bisa dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut. a Citra inframerah termal, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum inframerah termal. Penginderaan pada spektrum ini didasarkan atas perbedaan suhu objek dan daya pancarnya pada suatu citra yang tercermin berpunca perbedaan corak atau warnanya. b Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra nan dibuat dengan menggunakan spektrum gelombang elektronik mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan dengan sistem aktif, merupakan dengan sumber di asing tenaga matahari buatan. Adapun citra gelombang mikro dihasilkan dengan sistem pasif, yaitu dengan menggunakan sumber tenaga keilmuan matahari. 2 Sensor yang Digunakan Bersendikan sensor yang digunakannya, citra nonfoto dapat dibedakan ke dalam dua varietas, adalah sebagai berikut. a Citra solo, yakni citra yang dibuat dengan pemeriksaan eksklusif yang salurannya lebar. b Citra multispektral, yaitu citra yang dibuat dengan penapisan jamak, tetapi salurannya sempit. Citra multispektral masih dibedakan ke n domestik dua keberagaman, yaitu ibarat berikut. 1 Citra RBV Return Beam Vidicon, merupakan citra yang menunggangi pengawasan kamera dan karenanya tidak dalam bentuk citra karena detektornya tidak sinema dan prosesnya noncitragrafik. 2 Citra MSS Multi Spektral Scanner, yaitu citra yang memperalat sensornya boleh riil spektrum tertumbuk pandangan maupun skop inframerah termal. Citra ini boleh dibuat berpokok pesawat udara. 3 Wahana yang Digunakan Berdasarkan kendaraan nan digunakannya, citra nonfoto dibagi menjadi dua, merupakan sebagai berikut. a Citra Dirgantara Airbone Image, yaitu citra yang dibuat dengan alat angkut yang beroperasi di udara dirgantara. Contoh citra inframerah termal, citra radar, dan citra MSS. Citra dirgantara ini jarang digunakan. b Citra Satelit Satellite Image, yaitu citra yang dibuat pecah antariksa atau angkasa luar. Citra ini dibedakan lagi berlandaskan penggunaannya, yaitu ibarat berikut. 1 Citra satelit untuk penginderaan planet. Misalnya, citra bintang beredar Viking Amerika Serikat dan Citra Satelit Venera Rusia. 2 Citra Satelit lakukan penginderaan cuaca. Misalnya, NOAA Amerika Serikat, dan Citra Meteor Rusia. 3 Citra Bintang siarah bikin penginderaan sumber pusat bumi. Misalnya, Citra Landsat AS, Citra Soyuz Rusia, dan Citra SPOT Prancis. 4 Citra Bintang beredar bikin penginderaan laut. Misalnya, Citra Seasat AS dan Citra MOS Jepang. Demikianlah Penjelasan Penentuan Skala Citra Gegana dan Varietas Foto Penginderaan Jauh, semoga bermanfaat. Source 1. Penentuan Skala Citra Peledak Jumlah gambaran yang bisa disajikan pada satu foto udara salah suatu faktornya mengelepai plong nisbah foto. Skala dapat dinyatakan perumpamaan n partner jarak, pecahan representatif, atau skala. Bak komplet, jikalau jarak citra mega 1 mm mewakili 50 meter di lapangan, skala citra udara dapat ditulis 1 mm = 50 m antagonis unit atau 1/ bongkahan representatif atau 1 perbandingan. Sama halnya dengan rasio lega denah, penyebutan skala sreg foto pula dikenal adanya skala lautan dan skala boncel. Foto nan berskala besar adalah foto yang n kepunyaan skala 1 Karena foto ini menunjukkan ketampakan kancah yang ukurannya makin besar dan relatif dapat diperinci. Bandingkan dengan foto awan berskala 1 membentangkan isi seluruh kota akan menunjukkan ketampakan nan ukurannya lebih kerdil dan kurang rinci. Pendirian yang paling kecil mudah untuk menentukan apakah sebuah foto mega teragendakan ke dalam rasio osean ataupun skala kecil yaitu Ia harus mengingat bahwa incaran nan sama terlihat lebih mungil plong foto peledak nan skalanya lebih kerdil dibandingkan foto nan skalanya kian besar. Metode nan cepat buat menentukan neraca foto merupakan mengukur jarak di foto dan di lapangan antara dua titik yang dikenal. Syaratnya dua noktah tersebut harus dapat diidentifikasi di intern foto dan pada denah. Skala S dihitung sebagai nisbah jarak di citra d dan jarak di pelan D. S=d/D Skala yaitu fungsi pecah tahapan fokus kamera f yang digunakan lakukan mendapatkan foto dan tinggi terbang di atas korban H’. Neraca citra udara dapat dihitung melalui rumus misal berikut. S=f / H Sempurna Perekaman suatu target dilakukan dengan menggunakan kamera nan n kepunyaan panjang fokus 30 mm f. Tataran terbang pesawat meter di atas permukaan laut H dan izzah korban 300 meter di atas rataan laut h. Berapakah skala citra udara tersebut? Jawab S = f/H-h S = 30 / 3000-300 S = 30 mm / 2700 m S = 3 cm / cm S = 1 Bintang sartan, neraca citra gegana tersebut adalah 1 Perhitungan skala dilakukan dengan membandingkan janjang fokus dengan ketinggian gugup, tetapi jika pada citra gegana tidak dicantumkan ketinggian risau, prediksi skala boleh ditentukan dengan membandingkan jarak sreg citra gegana dengan jarak datar di lapangan. Perhitungannya bisa menggunakan rumus sebagai berikut. S = jf / jl Pemberitaan S = skala citra mega jf = jarak di citra jl = jarak menjemukan di lapangan 2. Jenis Foto Foto bisa dibedakan atas citra foto photographyc image atau citra udara dan citra nonfoto nonphotograpyc image. a. Citra Foto Citra foto yakni rangka nan dihasilkan dengan memperalat penapisan kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa bawah pertimbangan, yaitu misal berikut. 1 Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan Beralaskan cak cakupan elektromagnetik nan digunakan, citra foto bisa dibedakan atas menjadi lima jenis, yaitu sebagai berikut. a Foto ultraviolet, yaitu foto yang dibuat dengan menunggangi spektrum ultraungu erat dengan panjang gelombang 0,29 mikro meter. Cirinya tidak banyak manifesto yang dapat diperoleh, tetapi untuk beberapa objek dari citra ini mudah pengenalannya karena daya kontrasnya nan ki akbar. Foto ini adv amat baik bakal mendeteksi bilang fenomena, seperti tumpahan petro di air laut, mengecualikan atap besi yang tidak dicat, dan jaringan urut-urutan aspal. b Foto ortokromatik, ialah foto yang dibuat meng gunakan spektrum tertentang, menginjak warna biru sebatas sebagian yunior 0,4–0,56 mikrometer. Sasaran akan tampak lebih jelas sehingga citra ini berarti bagi studi tepi laut menghafal filmnya peka terhadap korban di bawah permukaan air hingga kedalaman cacat lebih 20 meter. c Foto pankromatik, adalah foto yang menunggangi seluruh spektrum tampak mata mulai warna sirah sebatas ungu. Resep peka film intim seperti sensitivitas mata bani adam. Foto ini sesuai bakal mendeteksi fenomena pencemaran air, banjir, dan penyerantaan potensi air lahan. d Foto inframerah asli true infrared photo, ialah foto nan dibuat dengan memperalat spektrum inframerah dekat 0,9–1,2 mikrometer nan dibuat secara tersendiri. Karak teristik citra ini yaitu boleh mencapai bagian dalam daun sehingga warna pada citra inframerah tidak ditentukan warna patera tetapi oleh sifat jaringannya. Foto ini sesuai untuk mendeteksi ber bagai spesies tanaman dengan segala macam kondisinya. e Foto inframerah modifikasi, ialah foto nan dibuat dengan infra merah dekat dan sebagian spektrum tertumbuk pandangan pada warna merah dan sebagian warna hijau. N domestik foto ini, objek tidak segelap dengan menggunakan sinema inframerah sebenarnya sehingga dapat dibedakan dengan air. Foto ini sejadi untuk angket vegetasi karena daun hijau tergambar dengan kontras. 2 Sumbu Kamera Murang kamera dapat dibedakan berdasarkan sebelah api-api kamera ke bidang dunia, yaitu sebagai berikut. a Foto vertikal atau foto tegak orto photograph, yaitu foto yang dibuat dengan sumbu pemotret tegak lurus terhadap permukaan bumi. b Foto menuju ataupun foto serong oblique photograph, yaitu foto nan dibuat dengan sumbu kodak menyudut terhadap garis agak gelap literal ke latar dunia. Sudut ini umumnya sebesar 100 maupun kian besar. Namun, kalau sudut kemiringannya masih berkisar antara 1–40, foto yang dihasilkan masih digolongkan misal citra mengirik. Citra condong bisa dibedakan lagi menjadi dua, yakni laksana berikut. 1 Foto agak condong low oblique photograph, ialah jika cakra wala tidak tergambar plong citra. 2 Foto sangat condong high oblique photograph, yaitu jika sreg foto tampak cakrawalanya. 3 Sudut Liputan Kamera Berdasarkan kacamata liputan kameranya, citra foto dibedakan atas empat jenis. Perhatikan Diagram berikut ini. Sudut kecil Narrow Angle Sudut normal Konvensional Angle Tesmak Gempal Wide Angle Kacamata sangat Lebar Super Wide Angle 304,8 209,5 152,4 88,8 100° Sudut mungil Sudut lazim/ sudut standar Sudut lebar Sudut sangat lebar Berdasarkan jenis kamera nan digunakannya, citra mega dapat di beda kan ke dalam dua jenis, merupakan sebagai berikut. a Foto unik, yakni foto nan dibuat dengan kamera tunggal. Tiap daerah liputan foto belaka tergambar oleh suatu lembar citra. b Foto halal, yaitu beberapa foto nan dibuat kapan yang sama dan menggambarkan kawasan liputan yang sama. Proses pembuatan nya dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu seumpama berikut. 1 Multi tustel atau sejumlah kamera yang masing-masing diarah cerek ke satu incaran. 2 Tustel multi lensa atau satu tustel dengan beberapa suryakanta. 3 Pemotret tunggal berlensa tunggal dengan penerang warna. Foto jamak masih dibedakan menjadi dua jenis, yaitu bak berikut. 1 Foto multispektral, ialah beberapa citra bikin daerah nan seperti mana sejumlah kamera, atau suatu kodak dengan beberapa lensa, setiap lensa menggunakan susukan band yang berlainan, adalah biru, hijau, merah, serta infra merah pantulan. 2 Foto dengan kodak ganda, ialah pemotretan di satu daerah dengan menggunakan beberapa kamera dengan jenis gambar hidup nan berbeda. Misalnya, pankromatik dan infra biram. 4 Dandan yang Digunakan Berdasarkan corak yang digunakannya, citra awan boleh dibedakan ke dalam dua tipe, yaitu ibarat berikut. a Foto berwarna semu false colour atau foto infra merah bercat. Pada foto berwarna semu, corak incaran tidak begitu juga rona citra. Misalnya, vegetasi nan berwarna hijau dan banyak memantulkan skop inframerah, tampak sirah sreg foto. b Foto rona asli true color, ialah foto pankromatik berwarna. 5 Sistem Ki alat Berdasarkan variasi wahana atau ki alat yang digunakannya, citra udara bisa dibedakan ke kerumahtanggaan dua diversifikasi, yakni seumpama berikut. a Foto udara, adalah foto nan dibuat dengan mandu menggunakan kendaraan pesawat atau balon udara. b Foto satelit atau foto orbital, yaitu citra yang dibuat dengan meng gunakan media atau wahana bintang siarah. b. Citra Nonfoto Citra nonfoto adalah bayangan objek yang dihasilkan oleh pengawasan bukan kamera. Citra nonfoto dibedakan atas cak cakupan elektromagnetik nan digunakan, sensor yang digunakan, dan berdasarkan wahana yang digunakan. 1 Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan Beralaskan spektrum elektromagnetik yang digunakan dalam proses penginderaan jauh, citra nonfoto dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yakni sebagai berikut. a Citra inframerah termal, ialah citra yang dibuat dengan jangkauan inframerah termal. Penginderaan pada skop ini didasarkan atas perbedaan suhu bahan dan daya pancarnya sreg suatu citra yang tercermin dari perbedaan rona alias warnanya. b Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan menunggangi spektrum gelombang mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan dengan sistem aktif, merupakan dengan sumber di luar tenaga surya sintetis. Adapun citra gelombang mikro dihasilkan dengan sistem pasif, yakni dengan menggunakan sumber tenaga saintifik matahari. 2 Sensor nan Digunakan Bersendikan sensor yang digunakannya, citra nonfoto bisa dibedakan ke dalam dua jenis, ialah seumpama berikut. a Citra tunggal, yakni citra yang dibuat dengan penapisan khas yang salurannya lebar. b Citra multispektral, yaitu citra yang dibuat dengan pemeriksaan jamak, hanya salurannya sempit. Citra multispektral masih dibedakan ke intern dua jenis, yakni sebagai berikut. 1 Citra RBV Return Beam Vidicon, ialah citra yang menggunakan sensor pemotret dan hasilnya tidak intern rancangan citra karena detektornya lain film dan prosesnya noncitragrafik. 2 Citra MSS Multi Spektral Scanner, yakni citra yang menggunakan sensornya boleh berupa cak cakupan tampak maupun skop inframerah termal. Citra ini dapat dibuat dari pesawat terbang. 3 Ki alat nan Digunakan Beralaskan ki alat yang digunakannya, citra nonfoto dibagi menjadi dua, ialah laksana berikut. a Citra Dirgantara Airbone Image, yaitu citra yang dibuat dengan wahana nan beroperasi di udara dirgantara. Contoh citra inframerah termal, citra radar, dan citra MSS. Citra dirgantara ini jarang digunakan. b Citra Planet Satellite Image, yaitu citra yang dibuat dari antariksa atau atmosfer. Citra ini dibedakan lagi berdasarkan penggunaannya, yaitu seumpama berikut. 1 Citra satelit bakal penginderaan planet. Misalnya, citra bintang siarah Viking Amerika Serikat dan Citra Bintang beredar Venera Rusia. 2 Citra Bintang siarah kerjakan penginderaan sinar. Misalnya, NOAA Amerika Perkongsian, dan Citra Meteor Rusia. 3 Citra Satelit untuk penginderaan sumur daya bumi. Misalnya, Citra Landsat AS, Citra Soyuz Rusia, dan Citra SPOT Prancis. 4 Citra Planet lakukan penginderaan laut. Misalnya, Citra Seasat AS dan Citra MOS Jepang. Demikianlah Penjelasan Penentuan Skala Citra Peledak dan Tipe Foto Penginderaan Jauh, kiranya bermanfaat. Source Jumlah gambaran yang dapat disajikan pada suatu foto udara salah satu faktornya bergantung pada skala foto. Skala dapat dinyatakan sebagai padanan jarak, pecahan representatif, atau perbandingan. Sebagai contoh, jika jarak citra udara 1 mm mewakili 50 meter di lapangan, skala citra udara dapat ditulis 1 mm = 50 m padanan unit atau 1/ pecahan representatif atau 1 perbandingan. Sama halnya dengan skala pada peta, penyebutan skala pada foto juga dikenal adanya skala besar dan skala kecil. Foto yang berskala besar adalah foto yang memiliki skala 1 Karena foto ini menunjukkan ketampakan medan yang ukurannya lebih besar dan relatif dapat diperinci. Bandingkan dengan foto udara berskala 1 menampilkan isi seluruh kota akan menunjukkan ketampakan yang ukurannya lebih kecil dan kurang rinci. Cara yang paling mudah untuk menentukan apakah sebuah foto udara termasuk ke dalam skala besar atau skala kecil adalah Anda harus mengingat bahwa objek yang sama tampak lebih kecil pada foto udara yang skalanya lebih kecil dibandingkan foto yang skalanya lebih besar. Metode yang cepat untuk menentukan skala foto adalah mengukur jarak di foto dan di lapangan antara dua titik yang dikenal. Syaratnya dua titik tersebut harus dapat diidentifikasi di dalam foto dan pada peta. Skala S dihitung sebagai perbandingan jarak di citra d dan jarak di lapangan D. S=d/D Skala adalah fungsi dari panjang fokus kamera f yang digunakan untuk mendapatkan foto dan tinggi terbang di atas objek H’. Skala citra udara dapat dihitung melalui rumus sebagai berikut. S=f / H Contoh Perekaman suatu objek dilakukan dengan menggunakan kamera yang memiliki panjang fokus 30 mm f. Tinggi terbang pesawat meter di atas permukaan laut H dan ketinggian objek 300 meter di atas permukaan laut h. Berapakah skala citra udara tersebut? Jawab S = f/H-h S = 30 / 3000-300 S = 30 mm / 2700 m S = 3 cm / cm S = 1 Jadi, skala citra udara tersebut adalah 1 Perhitungan skala dilakukan dengan membandingkan panjang fokus dengan ketinggian terbang, tetapi jika pada citra udara tidak dicantumkan ketinggian terbang, perhitungan skala dapat ditentukan dengan membandingkan jarak pada citra udara dengan jarak datar di lapangan. Perhitungannya dapat menggunakan rumus sebagai berikut. S = jf / jl Keterangan S = skala citra udara jf = jarak di citra jl = jarak datar di lapangan 2. Jenis Foto Foto dapat dibedakan atas citra foto photographyc image atau citra udara dan citra nonfoto nonphotograpyc image. a. Citra Foto Citra foto adalah gambar yang dihasilkan dengan menggunakan sensor kamera. Citra foto dapat dibedakan atas beberapa dasar pertimbangan, yaitu sebagai berikut. 1 Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan, citra foto dapat dibedakan atas menjadi lima jenis, yaitu sebagai berikut. a Foto ultraviolet, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum ultraviolet dekat dengan panjang gelombang 0,29 mikro meter. Cirinya tidak banyak informasi yang dapat diperoleh, tetapi untuk beberapa objek dari citra ini mudah pengenalannya karena daya kontrasnya yang besar. Foto ini sangat baik untuk mendeteksi beberapa fenomena, seperti tumpahan minyak di air laut, membedakan atap logam yang tidak dicat, dan jaringan jalan aspal. b Foto ortokromatik, yaitu foto yang dibuat meng gunakan spektrum tampak, mulai warna biru hingga sebagian hijau 0,4–0,56 mikrometer. Objek akan tampak lebih jelas sehingga citra ini berguna untuk studi pantai mengingat filmnya peka terhadap objek di bawah permukaan air hingga kedalaman kurang lebih 20 meter. c Foto pankromatik, yaitu foto yang menggunakan seluruh spektrum tampak mata mulai warna merah hingga ungu. Daya peka film hampir sama dengan kepekaan mata manusia. Foto ini sesuai untuk mendeteksi fenomena pencemaran air, banjir, dan penyebaran potensi air tanah. d Foto inframerah asli true infrared photo, yaitu foto yang dibuat dengan menggunakan spektrum inframerah dekat 0,9–1,2 mikrometer yang dibuat secara khusus. Karak teristik citra ini adalah dapat mencapai bagian dalam daun sehingga rona pada citra inframerah tidak ditentukan warna daun tetapi oleh sifat jaringannya. Foto ini sesuai untuk mendeteksi ber bagai jenis tanaman dengan segala macam kondisinya. e Foto inframerah modifikasi, yaitu foto yang dibuat dengan infra merah dekat dan sebagian spektrum tampak pada warna merah dan sebagian warna hijau. Dalam foto ini, objek tidak segelap dengan menggunakan film inframerah sebenarnya sehingga dapat dibedakan dengan air. Foto ini cocok untuk survei vegetasi karena daun hijau tergambar dengan Sumbu Kamera Sumbu kamera dapat dibedakan berdasarkan arah sumbu kamera ke permukaan bumi, yaitu sebagai berikut. a Foto vertikal atau foto tegak orto photograph, yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera tegak lurus terhadap permukaan bumi. b Foto condong atau foto miring oblique photograph, yaitu foto yang dibuat dengan sumbu kamera menyudut terhadap garis tegak lurus ke permukaan bumi. Sudut ini umumnya sebesar 100 atau lebih besar. Namun, jika sudut kemiringannya masih berkisar antara 1–40, foto yang dihasilkan masih digolongkan sebagai citra tegak. Citra condong dapat dibedakan lagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut. 1 Foto agak condong low oblique photograph, yaitu jika cakra wala tidak tergambar pada citra. 2 Foto sangat condong high oblique photograph, yaitu jika pada foto tampak cakrawalanya. 3 Sudut Liputan Kamera Berdasarkan sudut liputan kameranya, citra foto dibedakan atas empat jenis. Perhatikan Tabel berikut ini. Sudut kecil Narrow Angle Sudut normal Normal Angle Sudut Lebar Wide Angle Sudut sangat Lebar Super Wide Angle 304,8 209,5 152,4 88,8 100° Sudut kecil Sudut normal/ sudut standar Sudut lebar Sudut sangat lebar Berdasarkan jenis kamera yang digunakannya, citra udara dapat di beda kan ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut. a Foto tunggal, yaitu foto yang dibuat dengan kamera tunggal. Tiap daerah liputan foto hanya tergambar oleh satu lembar citra. b Foto jamak, yaitu beberapa foto yang dibuat pada saat yang sama dan menggambarkan daerah liputan yang sama. Proses pembuatan nya dapat dilakukan melalui tiga cara, yaitu sebagai berikut. 1 Multi kamera atau beberapa kamera yang masing-masing diarah kan ke satu sasaran. 2 Kamera multi lensa atau satu kamera dengan beberapa lensa. 3 Kamera tunggal berlensa tunggal dengan pengurai warna. Foto jamak masih dibedakan menjadi dua jenis, yaitu sebagai berikut. 1 Foto multispektral, yaitu beberapa citra untuk daerah yang sama dengan beberapa kamera, atau satu kamera dengan beberapa lensa, setiap lensa menggunakan saluran band yang berbeda, yaitu biru, hijau, merah, serta infra merah pantulan. 2 Foto dengan kamera ganda, yaitu pemotretan di suatu daerah dengan menggunakan beberapa kamera dengan jenis film yang berbeda. Misalnya, pankromatik dan infra merah. 4 Warna yang Digunakan Berdasarkan warna yang digunakannya, citra udara dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut. a Foto berwarna semu false colour atau foto infra merah berwarna. Pada foto berwarna semu, warna objek tidak sama dengan warna citra. Misalnya, vegetasi yang berwarna hijau dan banyak memantulkan spektrum inframerah, tampak merah pada foto. b Foto warna asli true color, yaitu foto pankromatik berwarna. 5 Sistem Wahana Berdasarkan jenis wahana atau media yang digunakannya, citra udara dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut. a Foto udara, yaitu foto yang dibuat dengan cara menggunakan media pesawat atau balon udara. b Foto satelit atau foto orbital, yaitu citra yang dibuat dengan meng gunakan media atau wahana satelit. b. Citra Nonfoto Citra nonfoto merupakan gambaran objek yang dihasilkan oleh sensor bukan kamera. Citra nonfoto dibedakan atas spektrum elektromagnetik yang digunakan, sensor yang digunakan, dan berdasarkan wahana yang digunakan. 1 Spektrum Elektromagnetik yang Digunakan Berdasarkan spektrum elektromagnetik yang digunakan dalam proses penginderaan jauh, citra nonfoto dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut. a Citra inframerah termal, yaitu citra yang dibuat dengan spektrum inframerah termal. Penginderaan pada spektrum ini didasarkan atas perbedaan suhu objek dan daya pancarnya pada suatu citra yang tercermin dari perbedaan rona atau warnanya. b Citra radar dan citra gelombang mikro, yaitu citra yang dibuat dengan menggunakan spektrum gelombang mikro. Citra radar merupakan hasil penginderaan dengan sistem aktif, yaitu dengan sumber di luar tenaga matahari buatan. Adapun citra gelombang mikro dihasilkan dengan sistem pasif, yaitu dengan menggunakan sumber tenaga alamiah matahari. 2 Sensor yang Digunakan Berdasarkan sensor yang digunakannya, citra nonfoto dapat dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut. a Citra tunggal, yaitu citra yang dibuat dengan sensor tunggal yang salurannya lebar. b Citra multispektral, yaitu citra yang dibuat dengan sensor jamak, tetapi salurannya sempit. Citra multispektral masih dibedakan ke dalam dua jenis, yaitu sebagai berikut. 1 Citra RBV Return Beam Vidicon, yaitu citra yang menggunakan sensor kamera dan hasilnya tidak dalam bentuk citra karena detektornya bukan film dan prosesnya noncitragrafik. 2 Citra MSS Multi Spektral Scanner, yaitu citra yang menggunakan sensornya dapat berupa spektrum tampak maupun spektrum inframerah termal. Citra ini dapat dibuat dari pesawat udara. 3 Wahana yang Digunakan Berdasarkan wahana yang digunakannya, citra nonfoto dibagi menjadi dua, yaitu sebagai berikut. a Citra Dirgantara Airbone Image, yaitu citra yang dibuat dengan wahana yang beroperasi di udara dirgantara. Contoh citra inframerah termal, citra radar, dan citra MSS. Citra dirgantara ini jarang digunakan. b Citra Satelit Satellite Image, yaitu citra yang dibuat dari antariksa atau angkasa luar. Citra ini dibedakan lagi berdasarkan penggunaannya, yaitu sebagai berikut. 1 Citra satelit untuk penginderaan planet. Misalnya, citra satelit Viking Amerika Serikat dan Citra Satelit Venera Rusia. 2 Citra Satelit untuk penginderaan cuaca. Misalnya, NOAA Amerika Serikat, dan Citra Meteor Rusia. 3 Citra Satelit untuk penginderaan sumber daya bumi. Misalnya, Citra Landsat AS, Citra Soyuz Rusia, dan Citra SPOT Prancis. 4 Citra Satelit untuk penginderaan laut. Misalnya, Citra Seasat AS dan Citra MOS Jepang. Demikianlah Penjelasan Penentuan Skala Citra Udara dan Jenis Foto Penginderaan Jauh, semoga bermanfaat.

cara menghitung skala foto udara